Senin, 20 November 2017
  • Home
  • STORY
  • Adakah Udang Di Balik Gelar Pahlawan?
Jumat, 10 November 2017 15:25:00

Adakah Udang Di Balik Gelar Pahlawan?

Oleh: Redaksi
Jumat, 10 November 2017 15:25:00
BAGIKAN:
Penghormatan terakhir kepada jasad Arif Rahman Hakim, 1966. (Foto: gahetna.nl/historia)

POROSRIAU.COM--Indonesia adalah negara dengan jumlah pahlawan terbanyak di dunia. Saat ini sebanyak 173 nama menghiasi album pahlawan nasional. Jumlahnya akan terus bertambah. Sebabnya, setiap tahun menjelang Hari Pahlawan, selalu ada nama baru.

Sejak kapan ritual gelar pahlawan ini bermula?

Sejarawan Prancis Denys Lombard mencatat, ide untuk memunculkan sosok pahlawan digagas pada penghujung 1950. Saat itu ada keinginan merehabilitasi semua korban kesewang-wenangan Belanda. Dalam memori masyarakat mereka adalah orang-orang yang berani menentang kompeni dan ada di berbagai daerah. Masyarakat menghargainya dengan beberapa cara. Potret tokoh-tokoh yang dianggap pahlawan diusung. Biografi mereka dibuat dengan kisah yang diperindah. Nama-nama tertentu bahkan diabadikan sebagai nama jalan.

“Agar prakarsa-prakarsa itu dapat ikut memperkuat ideologi persatuan, sejak 1959 Sukarno memutuskan untuk menyusun sebuah daftar resmi ‘pahlawan nasional’,” tulis Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya Jilid I: Batas-batas Pembaratan.

Abdul Muis, sastrawan-cum-politisi Sarekat Islam, menjadi yang pertama menerima gelar ini. Belum jelas alasannya. Tak berselang lama, masih di tahun 1959, Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan dan pendiri Indische Partij, serta Surjopranoto, tokoh perburuhan yang juga kakak sulung Ki Hadjar Dewantara, ditetapkan sebagai pahlawan.

Jumlah pahlawan kemudian terus bertambah.

“Sukarno sering menggunakan hak istimewanya sebagai presiden untuk mengusulkan kandidat-kandidat pahlawan dan untuk menyatakan mereka sebagai pahlawan tanpa mempertimbangkan atau persetujuan sebelumnya oleh komite yang berwenang,” tulis sejarawan Jerman Klaus H. Schreiner dalam “Penciptaan Pahlawan-Pahlawan Nasional dari Demokrasi Terpimpin sampai Orde Baru 1959-1993” termuat di Outward Appearances suntingan Henk Schulte Nordholt. Ini bisa dilihat dari pemberian gelar Pahlawan Revolusi pasca-Gerakan 30 September 1965.

Kepentingan politik juga mendasari pengangkatan Tan Malaka dan Alimin sebagai pahlawan. Menurut Schreiner, Sukarno mengangkat dua tokoh komunis sebagai pahlawan berdasarkan kepentingan strategis: menempatkan wakil dari ideologi komunis dalam Nasakom (nasionalis, agama, dan komunis).

Gelar pahlawan Tan dan Alimin tak pernah dicabut, kendati nama mereka pernah tak muncul dalam daftar pahlawan nasional yang terbit pada masa Orde Baru.

Di era Sukarno, hampir semua pahlawan berasal dari masa pergerakan nasional dan kebanyakan dari Pulau Jawa. Hanya empat dari 33 pahlawan yang tercatat hidup dan berjuang pada masa sebelumnya: Si Singamangaradja XII, Tjut Meutia, Tjut Njak Dien, dan Pakubuwono VI. Keempatnya dilihat sebagai eksponen-eksponen perlawanan antikolonial regional.

Sosok paling tua di antara tokoh gerakan nasional adalah Haji Samanhudi, pendiri Sarekat Dagang Islam. Sedangkan yang termuda Jenderal Sudirman. Sutan Sjahrir menjadi nama terakhir yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional era Sukarno.

Di masa Soeharto, keputusan pengangkatan pahlawan lebih ketat daripada rezim sebelumnya. Bedanya, varian tokoh pahlawan diperluas, baik secara historis maupun geografis. Kendati demikian, kepentingan politik tak luput dari pertimbangan.

Menurut Schreiner, sejarah hubungan antara rakyat Indonesia dan Belanda dikonseptualisasi sebagai suatu sejarah perjuangan antikolonial yang memuncak pada kebangkitan rezim Orde Baru.

Nama pertama yang dinominasikan rezim Soeharto adalah Laksamana Martadinata pada 1966. Martadinata adalah tokoh yang mendukung Soeharto sesaat setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965. Gelar yang sama juga diberikan kepada Basuki Rachmat pada 1969, salah dari tiga jenderal yang menjadi saksi Surat Perintah 11 Maret (Supersemar), simbol tonggak berdirinya Orde Baru. Pengangkatan juga terjadi pada Siti Hartinah, yang tak lain istri Soeharto.

Sebaliknya, sejumlah tokoh yang layak mendapat gelar pahlawan justru sempat gagal karena bersikap kritis terhadap rezim Orde Baru. Ini dialami Bung Tomo, pejuang dalam Pertempuran Surabaya. Bung Tomo baru diakui sebagai pahlawan tahun 2008.

Kontroversi juga muncul ketika Soeharto memberikan gelar Pahlawan Proklamasi kepada dwitunggal Soekarno-Mohammad Hatta pada 1986. Masalahnya, selain undang-undang tak mengaturnya, gelar itu justru menbelenggu nama besar dan mereduksi peran keduanya secara sendiri-sendiri maupun dalam konteks peristiwa sejarah –hanya pada peristiwa proklamasi.

Setelah reformasi, kontroversi masih mengiringi pemberian gelar pahlawan. Pada 2012, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Soekarno dan Mohammad Hatta. Padahal UU No 20/2009 menyebut Pahlawan Nasional mencakup semua jenis gelar yang pernah diberikan, yakni Pahlawan Perintis Kemerdekaan, Pahlawan Kemerdekaan Nasional, Pahlawan Proklamasi, Pahlawan Kebangkitan Nasional, Pahlawan Revolusi, dan Pahlawan Ampera.

Yang menarik lagi, sekarang nama-nama Pahlawan Ampera juga tak tercantum, misalnya dalam buku Profil Pahlawan Nasional yang dikeluarkan Kementerian Sosial tahun 2016. Apakah mereka masih Pahlawan Nasional?

Hartono Laras hanya memberikan jawaban singkat: “(Kalau) menurut UU No. 20 Tahun 2009... Pahlawan Nasional.”

Kontroversi yang tak pernah surut tentu saja usulan pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto, mantan presiden.

“Pahlawan itu keputusan politik sebetulnya. Ada simbol sosial di sana. Pada intinya, pahlawan itu ada dua sisi. Pertama akademi, kedua politik. Penentunya itu politik karena itu yang menentukan pemerintah,” ujar Abdul Syukur, sejarawan Universitas Negeri Jakarta yang juga anggota Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP).***

Editor: Chaviz

Sumber: Historia

copy code snippet
Kirimkan opini Anda seputar politik, isu sosial dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Redaksi Porosriau.com mengutamakan opini yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Setiap Opini yang diterbitkan di luar dari tanggung jawab redaksi. KIRIM KE Email: pkuporosriau@gmail.com
  Berita Terkait
  • Paripurna DPRD HUT Riau Ke 59

    tahun lalu

    Pekanbaru (POROSRIAU.com) - Untuk menghargai dan mengenang jasa pejuang kemerdekaan dan tokoh daerah di Provinsi Riau pada masa lalu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau mengucapkan selamat kepada 20 tokoh yang mendapat penghargaan dan sekaligus diberikan

  • Barcelona Taklukkan Tim Juru Kunci Berkat Gol Rafinha

    tahun lalu

    Barcelona menuai angka penuh setelah menang atas Granada dengan skor 1-0, pada laga lanjutan La Liga 2016-2017, di Estadio Camp Nou, Sabtu (29/10/2016) atau Minggu (30/10/2016) dini hari WIB. Rafinha menjadi pahlawan Barcelona setelah mencetak gol pada me

  • SMPN 9 Bengkalis Gelar Bazar dan PameranHasil Daur Ulang Sampah

    12 bulan lalu

    Dalam rangka mensosialisasikan daur ulang sampah, SMPN 9 Bengkalis menaja bazar dan pameran hasil daur ulang sampah Minggu (4/12/2016) kemarin.

  • Jorge Lorenzo Meyakini Ada Pihak yang Tak Ingin Ducati Sukses

    11 bulan lalu

    POROSRIAU.COM - Pebalap Ducati untuk MotoGP 2017, Jorge Lorenzo, meyakini ada konspirasi di balik pelarangan winglet oleh Komisi Grand Prix MotoGP. Rider asal Spanyol itu menyebut ada pabrikan lain yang tak ingin melihat Ducati meraih kesuksesan.

  • Ibrahimovic Dijagokan Raih Penghargaan Pemain Terbaik

    9 bulan lalu

    POROSRIAU.COM--Mantan bek Liverpool, Jamie Carragher, menilai pemain Chelsea tampil memukau pada musim 2016-2017, terutama N'Golo Kante. Akan tetapi, Carragher menjagokan striker Manchester United, Zlatan Imbrahimovic, dalam perebutan gelar pemain te

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 Poros Riau. All Rights Reserved.