Rabu, 23 Agustus 2017
  • Home
  • Travel
  • Mitos dan Asal Usul Gelombang Bono di Sungai Kampar
  • Home
  • TRAVEL
  • Mitos dan Asal Usul Gelombang Bono di Sungai Kampar
Jumat, 23 Desember 2016 18:55:00

Mitos dan Asal Usul Gelombang Bono di Sungai Kampar

Jumat, 23 Desember 2016 18:55:00
BAGIKAN:
Int
Ombak Bono sungai Kampar.

POROSRIAU.COM-- Secara ilmiah, gelombang bono merupakan salah satu peristiwa alam yang cukup langka dan jarang terjadi. Dimana kita akan menyaksikan sebuah gelombang besar yang layaknya terjadi di tengah laut, namun ini terjadi di sebuah sungai air tawar.

 Gelombang bono terjadi diakibatkan benturan tiga arus air yang berasal dari Selat Melaka, Laut Cina Selatan dan Aliran air Sungai Kampar. Akibat benturan ini, menjadikan gelombang air di muara sungai Kampar bisa mencapai ketinggian 4-5 meter dengan ditandai sebelumnya dengan suara gemuruh yang hebat. Ini merupakan fenomena ilmiah yang akan dipercayai oleh kaum intelektual saja. Namun tahukah Anda, masyarakat sekitar memiliki cerita-cerita dongeng yang istimewa terkait dengan adanya gelombang bono tersebut? Ada banyak cerita dan kepercayaan dari masyarakat lokal yang menjadikan peristiwa alam yang langka tersebut kian istimewa. 

Menurut kepercayaan warga, gelombang bono yang ada di sungai kampar adalah bono jantan, sementara bono betinanya berada di daerah Sungai Rokan, dekat dengan Kota Bagansiapi-api. Bono di kuala kampar tersebut berjumlah tujuh ekor, dimana bentuknya serupa kuda yang biasa disebut dengan induk Bono. Pada musim pasang mati, bono ini akan pergi ke Sungai Rokan untuk menemui bono betina. Kemudian bersantai menuju ke selat Malaka. Itulah sebabnya ketika bulan kecil dan pasang mati, bono tidak ditemukan di kedua sungai tersebut. Jika bulan mulai besar, kembalilah bono ketempat masing-masing, lalu main memudiki sungai Kampar dan sungai Rokan. Semakin penuh bulan di langit, semakin gembira bono berpacu memudiki kedua sungai itu.

Bagi penduduk daerah Kuala Kampar, bono sudah mereka kenal sejak kecil. Sebab itulah tidak aneh, apabila anak-anak, remaja dan juga orang dewasa menganggap bono sebagai sahabatnya, tempat mereka bermain ketangkasan menunggangi Bono atau disebut Bekudo Bono menggunakan perahu-perahu (sampan) kecil. Biasanya tempat bermain bono bagi warga sekitar adalah di tempat-tempat dimana bono tidak terlalu besar atau di dalam anak-anak Sungai Kampar yang memiliki Bono, seperti misalnya Sungai Sangar, Turip, Serkap, Kutub dan Sungai Kerumutan. Permainan ini memang besar resikonya, sebab jika salah perhitungan perahu dapat dilemparkan bono ke tebing sehingga hancur luluh. Tetapi dari pengalaman sejak kecil, mereka, para pemain bono ini sudah mengetahui betul dimana tempat yang aman bermain bono.


Dahulunya, permainan bono tersebut sering dilakukan dengan terlebih dahulu menggelar upacara tertentu untuk menjamin keselamatan para pemainnya. Upacara tersebut dinamakan ‘semah’ yang harus dilakukan pagi atau siang hari. Upacara ini dipimpin oleh seorang ‘Bomo’ atau Datuk atapun para tetua kampung. Hal tersebut dilakukan maksud agar pengendara bono mendapat keselamatan saat mengendarai bono, dan dijauhkan dari segala bahaya. Selain itu, ada pula cerita mistis yang berhubungan dengan ombak bono tersebut yakni cerita tentang banjir darah di mempusun atau mempusun bersimbah darah, serta terbentuknya Kerajaan Pelalawan pada tahun 1822 M.

Para pendekar melayu konon kabarnya sering ditantang dan diuji ketangkasannya dengan menunggangi gelombang bono tersebut. Siapa yang berhasil menakklukkan gelombang yang sangat tangguh tersebut maka akan dianggap sebagai sosok yang sakti dan memiliki kekuatan terbaik. Cerita lain menyebutkan bahwa dahulunya gulungan ombak ini berjumlah 7 (tujuh) ombak besar dari 7 hantu. Ketika pada masa penjajahan Belanda, kapal-kapal transportasi Belanda sangat mengalami kesulitan untuk memasuki Kuala Kampar akibat ombak ini. Salah seorang komandan pasukan Belanda memerintahkan untuk menembak dengan meriam ombak besar tersebut. Entah karena kebetulan atau karena hal lain, salah satu ombak besar yang kena tembak meriam Belanda tidak pernah muncul lagi sampai sekarang. Maka sekarang ini hanya terdapat 6 (enam) gulungan besar gelombang ombak Bono.

Akan tetapi kemudian menjadi permainan biasa dan dapat dilaksanakan sesuka hati. Tetapi permainan ini hanya di lakukan pada siang hari, sedangkan malam hari betapapun beraninya mereka, belumlah ada yang berani mencobanya. Hal ini disebabkan karena resikonya yang cukup besar. Bila Anda takut ataupun ngeri untuk turut bersama perahu bermain bono, Anda dapat menyaksikan bono dari darat saja. Tetapi Jika berani silahkan bermain bono dengan perahu-perahu kecil yang banyak terdapat disana. Yang penting Anda harus pandai berenang, serta menunggangi bono itu. Permainan ini mirip dengan selancar pada ombak-ombak di pantai, karena tempatnya luas dan tantangannya cukup besar.

Editor: Chaviz

Sumber: ombak bono.com

copy code snippet
Kirimkan opini Anda seputar politik, isu sosial dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Redaksi Porosriau.com mengutamakan opini yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Setiap Opini yang diterbitkan di luar dari tanggung jawab redaksi. KIRIM KE Email: pkuporosriau@gmail.com
  Berita Terkait
  • Menpar: Tetapkan Bono sebagai Destinasi Kelas Dunia

    7 bulan lalu

    JAKARTA(POROSRIAU.COM)--Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya optimistis Provinsi Riau belum terlambat membangun sektor pariwisata. Selain kaya akan tradisi dan budaya, terutama Melayu, kondisi alam Riau sebenarnya juga tidak kalah menarik.

  • Hanyut di Parit, Bocah 9 Tahun Ditemukan dalam Lumpur

    10 bulan lalu

    Sejak hilang pada Minggu, lusa kemarin, jasad Faiz, bocah sembilan tahun asal Kabupaten Kampar, Provinsi Riau akhirnya ditemukan tim gabungan sudah dalam kondisi meninggal dunia, Selasa (1/11).

  • Ternyata Kerajaan Gunung Sahilan adalah Keturunan Raja Pagaruyung

    7 bulan lalu

    Saat ini Istana Kerajaan Gunung Sahilan merupakan salah satu situs Nasional di Kabupaten Kampar. Penanganan situs Nasional Istana Gunung Sahilan telah ditangani secara Nasional dan Provinsi.

  • Reaf Haggag Sambangi Mesjid Kurang Aso 60

    4 bulan lalu

    Stasiun Televisi nasional Trans 7 kembali melirik Kabupaten Solok Selatan sebagai tempat tujuan syuting pembuatan suatu acara, kali ini acara Program Journey Of Backpacker yang akan ditayangkan selama bulan suci ramadhan yang akan datang, meliput beberapa

  • Tiga JCH Asal Riau Wafat Di Madinah

    satu minggu lalu

    Plh Kabid Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kanwil Kemenag Riau, H Saifunnajar MH, membenarkan hal tersebut. Data tersebut sesuai laporan petugas haji dan data Siskohat.

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 Poros Riau. All Rights Reserved.