Senin, 20 November 2017
  • Home
  • Kampar
  • Azharisman Rozie: Filosofi Rantau Larangan, Masyarakat Koto Kampar Hulu Taat Aturan Dan Cinta Lingkungan
Senin, 30 Oktober 2017 15:24:00

Azharisman Rozie: Filosofi Rantau Larangan, Masyarakat Koto Kampar Hulu Taat Aturan Dan Cinta Lingkungan

Oleh: Firman
Senin, 30 Oktober 2017 15:24:00
BAGIKAN:
Datuk Gindo Semajo, Azharisman Rozie makan bajambau bersama keluarga dan warga.(Foto/Fir)
PEKANBARU (POROSRIAU.COM) - Masing-masing daerah memiliki berbagai kebudayaan. Setiap tahun kegiatan kebudayaan kerap dilaksanakan. Seperti halnya kebudayaan yang hingga kini masih dijalankan ditengah-tengah masyarakat delapan desa, Kecamatan Koto Kampar Hulu, Kabupaten Kampar. Seperti Desa Tanjung, Desa Tabing, Desa Kongkai, Desa Gunung Melelo, Desa Sibiruang, Desa Batas, Desa Vila.
 
Budaya yang masih dijalankan yakni rantau larangan, rantau larangan ini, dimana masyarakat setempat tidak diperbolehkan menangkap ikan pada sungai yang telah ditentukan. Larangan ini berlaku selama kurun waktu satu hingga dua tahun. 
 
Seperti disampaikan salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Kampar, Datuk Gindo Semajo, Azharisman Rozie ketika di wawancara terkait acara yang berlangsung pada Minggu (29/10/10).
 
"Ada suatu budaya yang masih melekat di masyarakat Kampar, terutama masyarakat Kecamatan Koto Kampar Hulu, yaitu membuat rantau larangan. Rantau Larangan itu.. ada suatu tempat di sungai Kampar, di daerah tertentu.., tidak boleh mengambil ikan selama kurun waktu setahun atau dua tahun. Nah setelah itu beramai-ramai masyarakat mengambil ikan disana," terang Datuk Ginda Semajo, Azharisman Rozie saat ditemui di Kantor Walikota Pekanbaru, Senin (30/10/2017).
 
Terkait acara yang dilaksanakan seluruh elemen masyarakat Kecamatan Koto Kampar Hulu, pria yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Pekanbaru ini mengaku mendukung penuh kegiatan kebudayaan yang dijalankan.
 
"Saya mendukung sekali acara ini.., maka ketika para kepala desa lebih kurang delapan desa, yakni Desa Tanjung, Desa Tabing, Desa Kongkai, Desa Gunung Melelo, Desa Sibiruang, Desa Batas, Desa Vila, meminta saya datang untuk membuka acara, nah saya hadir sebagai tokoh adat, karena saya salah seorang datuk, Datuk Gindo Semajo," ujar Datuk Gindo Semajo, Azharisman Rozie.
 
Dikatakan Datuk Gindo Semajo, alasan dirinya mendukung serta mengapresiasi kegiatan yang telah berlangsung, lantaran dalam kegiatan tersebut terkandung folosofi hidup, diantaranya taat akan hukum, serta cinta akan lingkungan.
 
"Kenapa.., alasannya yang pertama, acara itu saya melihat ada filosofinya, pertama ada nilai ketaatan. Artinya apa.., semua masyarakat di Koto Kampar Hulu itu taat akan hukum atau aturan, disitu tidak boleh mengambil ikan, padahal tidak ada pengawasan. Yang kedua adalah cinta terhadap lingkungan, orang tidak menggunakan racun dalam menangkap ikan. Cinta kepada lingkungan dan habitat yang ada disekitar kita. Yang ketiga silaturahmi. Jadi saya melihat cukup antusias masyarakat, dan ini budaya yang harus dikembangkan. Kalau setiap desa yang memiliki adat istiadat mempunyai  acara seperti itu, cukup banyak objek-bjek wisata yang bisa kita kembangkan di Provinsi Riau, terutama di Kabupaten Kampar," ungkapnya.
 
Terakhir dikatakan Datuk Gindo Semajo, Azhrisman Rozie, hasil tangkapan ikan yang didapat masyarakat, dibawa pulang kerumah masing-masing.
 
"Hasil tangkapan ikan dibawa dengan sukacita oleh masyarakat kerumahnya masing-masing. Tangkapannya banyak, berkilo-kilo mereka dapat. Diantara banyak nilai yang terkandung dalam acara itu, ada tiga nilai yang saya sebutkan tadi. Mudah-mudahan ini bisa dikembangkan kedepannya," ujar Datuk Gindo Semajo mengakhiri.(fir)
Editor: Firman Tanjung

copy code snippet
Kirimkan opini Anda seputar politik, isu sosial dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Redaksi Porosriau.com mengutamakan opini yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Setiap Opini yang diterbitkan di luar dari tanggung jawab redaksi. KIRIM KE Email: pkuporosriau@gmail.com
  Berita Terkait
  • Asap Pekat PKS PT Linggak Inti Lestari Resahkan Warga Desa Koto Tandun

    12 bulan lalu

    Meski Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Rokan Hulu telah mengeluarkan himbauan di media massa, agar para pelaku usaha mengelola limbahnya sesuai aturan Lingkungan Hidup.

  • Ternyata Kerajaan Gunung Sahilan adalah Keturunan Raja Pagaruyung

    10 bulan lalu

    Saat ini Istana Kerajaan Gunung Sahilan merupakan salah satu situs Nasional di Kabupaten Kampar. Penanganan situs Nasional Istana Gunung Sahilan telah ditangani secara Nasional dan Provinsi.

  • Terkait Masalah Limbah, Komisi I DPRD Rohul Hearing dengan PT RSI dan Dinas LH

    5 bulan lalu

    Komisi I DPRD Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) memanggil manajemen Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT. Rokan Sawit Industri (RSI) berlokasi di Kecamatan Ujung Batu dan Dinas Lingkungan Hidup (LH) Rohul, Senin (12/6/2017).

  • Masyarakat Pekanbaru Apresiasi Bapenda Buka Layanan Di Hari Libur

    4 bulan lalu

    PEKANBARU (POROSRIAU.COM) – Masyarakat Kota Pekanbaru, dalam hal ini Wajib Pajak (WP) mengapresiasi Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Pekanbaru dalam memberikan pelayanan kepada masyarak

  • Bupati Kampar Resmikan Empat UPTD Puskemas

    2 bulan lalu

    Dalam acara Kampanye (Germas) Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Tingkat Provinsi Riau tahun 2017, Bupati Kampar H Azis Zaenal,SH,MM meresmikan empat buah sekaligus UPTD Puskesmas yang ada di Kabupaten Kampar.

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 Poros Riau. All Rights Reserved.