Senin, 25 September 2017
  • Home
  • Pekanbaru
  • Hidup Dengan 7 Anak, Tina Banting Tulang Jadi Buruh Cuci
Selasa, 25 Juli 2017 18:06:00

Hidup Dengan 7 Anak, Tina Banting Tulang Jadi Buruh Cuci

Oleh: eza
Selasa, 25 Juli 2017 18:06:00
BAGIKAN:
Int
Ilustrasi

PEKANBARU(POROSRISAU.COM)-- Kristina (30) warga Jalan Tanjung Batu gang berdikari kelurahan pesisir, kecamatan Lima Puluh, terpaksa banting tulang menjadi buruh cuci harian demi menghidupi ketujuh orang anaknya yang masih kecil.

Tina, begitu panggilannya, baru mendapat pekerjaan menjadi buruh cuci panggilan harian sekitar dua pekan lamanya. Pekerjaan ini diambilnya setelah 3 bulan lamanya ditinggal pergi oleh sang suami, Dadang Irwansyah, yang bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) yang pergi begitu saja tanpa kabar dan berita.

Dibawah rumah papan kayu berukuran 5X6 dan beralaskan semen itu, Tina kerap mengusap dada dan terkadang sedih saat melihat anak disekitar rumah tetangganya bersekolah.

Sementara, anak keduanya Putra Sandi (13) dan anak ketiga Putri Ayu Lestari (12) terpaksa berhenti sekolah sampai di kelas 3 Sekolah Dasar (SD) karena tidak punya biaya.

"Anak saya yang pertama ikut kakak saya di Medan. Dia disekolahkan kakak saya disana," kata Tina, saat wartawan menyambangi rumahnya, Selasa (25/7) siang.

Sementara, anak keempatnya Bunga Citra Lestari (9 tahun) didaftarkan masuk di kelas 1 Sekolah Dasar Negeri (SDN) 127 Jalan Tanjung Batu, Kelurahan Pesisir, Kecamatan Lima Puluh. Sementara anak ke lima, anak keenam dan ketujuh masih balita.

Dia sendiri mengaku bingung saat sekolah tempat anaknya mengenyam pendidikan meminta sejumlah uang kebutuhan seragam sekolah. Sementara, uang yang dia dapatkan dari biaya upah cuci harian hanya sekitar Rp20-25 ribu per hari.

"Bagaimana saya mau membayar, upah saya mencuci baju hanya cukup untuk biaya makan saja," ucap tina dengan wajah berkaca-kaca.

Sebelum mendapat pekerjaan sebagai buruh cuci harian panggilan, dia mengaku sebelumnya tak memiliki pekerjaan. Untuk menyambung hidup, tina mendapatkan bantuan sumbangan swadaya dari warga sekitar rumahnya. Bantuan itu, diberikan secara sukarela oleh warga untuk kebutuhan membeli beras.

"Satu hari bisa masak 3 tekong beras. Itu untuk makan saya dan anak-anak. Cukup tak cukup, saya bersyukur saja," ucap perempuan yang belum lama ini memeluk agama Islam tersebut.

Untuk pembuatan administrasi kependudukan seperti KTP saja, dia mengaku tidak memiliki uang. Ketujuh anaknya juga sampai saat ini belum memiliki akte kelahiran.

"Ada KK saya, terakhir dibuat tahun 2005. Mau buat, biaya tak ada pak. Saya juga ingin mengurus KTP, KK dan akte kelahiran. Tapi mau gimana, uang tak ada," ucap Tina yang mengaku sudah menetap di daerah tersebut 15 tahun.


Masih ada kaum marjinal di Kota

Anggota DPRD Kota Pekanbaru dari Fraksi PPP PKS NasDem, Roem Diani Dewi, mengaku prihatin dengan kondisi keluarga tersebut. Harusnya, Camat dan Lurah melakukan pendataan terhadap warga yang ada dilingkungannya.

"Kejadian ini seolah-olah luput dari perhatian pemerintah," kata politisi PKS tersebut.

Dia menyebut, disaat Kota Pekanbaru sibuk merayakan Hari Anak Nasional (HAN) dan Kota Pekanbaru disebut-sebut sebagai kota layak anak, ternyata masih ada kaum marjinal yang berada di tengah kota.

"Disaat Pemko Pekanbaru sibuk dengan prestasinya, ternyata masih banyak anak di pekanbaru yang tidak dapat perhatian semestinya," sebutnya.

Harusnya anak-anak yang termarjinalkan ini diurus dan diperhatikan. Dikatakannya, dari kejadian ini, abak-anak tina butuh pendidikan yang layak. "Aneh saja, ada Camat dan Lurah sebagai ujung tombak  yang tidak mengetahui warganya," terangnya.

Karena kesejangan ekonomi, keluarga Tina di Kecamatan Lima Puluh, luput dari perhatian pemerintah. Mereka bahkan tidak mendapatkan bantuan apapun sebagai warga Kota Pekanbaru.

"Harusnya keluarga ini diprioritaskan. Diberi bantuan kartu miskin dan lainnya. Mana warga yang benar-benar warga miskin yang mendapatkan bantuan. Jangan pemerintahnya hanya menaikkan status dan prestasi saja, kalau ditengah kota ada kaum marjinal yang tidak dapat status pendidikan," pungkasnya. (Eza)

Editor: Chaviz

copy code snippet
Kirimkan opini Anda seputar politik, isu sosial dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Redaksi Porosriau.com mengutamakan opini yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Setiap Opini yang diterbitkan di luar dari tanggung jawab redaksi. KIRIM KE Email: pkuporosriau@gmail.com
  Berita Terkait
  • Ku Tak Ingin Sandang Status Janda kedua kalinya

    tahun lalu

    DUMAI(POROSRIAU.com) – Er  seorang perempuan kelahiran Medan 28 tahun lalu tinggal di jalan Seputaran Jalan Sultan Syarif Kasim Kota Dumai, pernah menyandang status janda, namun setahun

  • Ade Hartati Peduli Nasib Tina

    2 bulan lalu

    Bersmaa anak anaknya, Kristina bercerita masa kelam yang ia jalani bersama sang suami yang pergi entah kemana. Tanpa diduga air matanya pun terlihat menetes karena terharu melihat orang yang peduli kepada ia dan buah hatinya.

  • BUMD Segera Resmikan Pembangunan Batching Plant

    tahun lalu

    Sejak dinakhodainya Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Pembangunan Dumai oleh Bennedy Boeiman sejumlah terobosan pun dilakukannya untuk memajukan perusahaan yang diibaratkan "mati segan hidup tak mau" ini.

  • Mahasiswa Dumai Gagas Kegiatan Bank Sampah di Sekolah

    tahun lalu

    Dumai(PORORIAU.com) - Untuk meningkatkan peran yang lebih besar di tengah masyarakat, Pemuda-pemudi terbaik di Kota Dumai berkumpul mengunjungi SMPN 5 Dumai, SMPN 13 Dumai dan SDN 005 Bukit Nenas, Bukit Kapur dalam rangka sosialisasi pengelolaan lingkunga

  • Wabup Ingatkan PNS & Honorer Tidak Adalagi Tersandung Hukum

    tahun lalu

    Meranti(POROSRIAU.com) - Apel senin pagi di halaman kantor Bupati Kabupaten Kepulauan Meranti di pimpin langsung oleh Wakil Bupati Kepulauan Meranti Drs H Said Hasyim Msi, Senin (22/8) pagi.

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 Poros Riau. All Rights Reserved.