Selasa, 02 Desember 2025 09:04:00
Luar Biasa! Anak Sungai Jadi Parit, Pulau Ancak Jadi Daratan, Masyarakat Kebanjiran
Selasa, 02 Desember 2025 09:04:00
DUMAI, POROSRIAU.COM - Hasil turun lapangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah bersama Aliansi Masyarakat Untuk Keadilan Kota Dumai dan sejumlah instansi terkait beberapa waktu lalu, menemukan bukti, 5 anak sungai kini telah berubah menjadi parit parit kecil dan menyempit karena sedimentasi.
"Proses pengendapan partikel-partikel padat, pasir, lumpur, dan tanah, yang terbawa air menyebabkan drainase menjadi sempit," ungkap ketua Pecinta Alam Bahari, Darwis Mohamad Saleh, Selasa (2/12/2025).
Akibat sedimentasi tersebut lanjut Darwis, menimbulkan beberapa masalah, Pendangkalan parit, sungai, Kerusakan ekosistem, Penurunan kualitas air, Peningkatan risiko banjir.
"Sejak anak sungai berubah fungsi, ditambah pendangkalan sedimentasi, masyarakat yang menanggung akibatnya. Banjir rob tidak lagi bisa diprediksi," jelas Darwis.
Untuk itu, pihaknya meminta kepada operator maupun regulator kepelabuhanan, mengembalikan kembali fungsi 5 anak sungai yang di telah ditutup perusahaan.
"Kembalikan 5 anak sungai kami yang ditutup Pelindo dan kembalikan fungsinya seperti semula," ujar Darwis.
Selain itu, hilangnya Pulau Ancak akibat perluasan kawasan pelabuhan menjadi penyebab, air pasang cepat naik ke darat karena penghambat atau benteng pencegah aliran arus laut langsung mengarah ke darat.
"Karena benteng arus air laut tak lagi terkendali secara alami, makanya air pasang laut langsung ke darat," ungkap Darwis.
Ketua Komisi III DPRD Kota Dumai Hasrizal SH, saat meninjau kelapangan, meminta pihak perusahaan untuk memperbaiki kembali fungsi anak sungai yang dulu menjadi penopang aliran air ke laut.
"Kita telah melihat dengan mata kita sendiri, bahwa parit yang dulunya adalah anak sungai, kini telah menyempit dan terjadi sedimentasi. Kita minta pihak perusahaan segera melakukan perbaikan," terang Hasrizal.
Sebagaimana kita lihat bersama, lanjut Hasrizal lagi, telah terjadi sedimentasi drainase yang menyebabkan air tidak lancar menuju ke laut, juga karena adanya beberapa parit yang diatasnya berdiri bangunan maupun gudang milik perusahaan. Dan ini juga menimbulkan masaalah baru.
Untuk, itu pihaknya mendesak agar perusahaan segera membongkar bangunan yang berdiri diatas parit.
"Bukan hanya karena berubahnya fungsi anak sungai dan terjadi sedimensi, bangunan diatas parit juga menjadi faktor penyumbatan saat air menuju ke laut. Kita minta bangunan tersebut di bongkar," jelas Hasrizal.
Dari pantauan media di lapangan sedikitnya ada beberapa perusahaan yang mendirikan bangunan diatas parit, diantara, PT Bukit Kapur Reksa ( Wilmar Group), PT Inti Benua Perkasatama, PT Naga Mas, serta PT Pelindo yang mendirikan bangunan gudang 04 diatas parit. (saf)
Diterjang Pasang Besar, Sejumlah Ruas Jalan di Tembilahan Terendam
9 tahun laluTEMBILAHAN(POROSRIAU.COM)- Seperti biasa saat pasang dalam tiba beberapa ruas jalan di kota Tembilahan kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) tergenang air . Naiknya air pasang kepermukaan jalan terhitung sejak hari jum'at hingga senin sore kedalaman menc
Masjid 60 Kurang Aso Wisata Religi Solok Selatan
9 tahun laluPada masa lalu, di daerah Solok Selatan terdapat sebuah Kerajaan penting. Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu namanya. Hingga saat ini masih banyak peninggalan-peninggalan bersejarah yang masih terpelihara dengan baik
Mulai Hari Ini PLN Kembali Lakukan Pemadaman Bergilir, Berikut Jadwalnya
8 tahun laluPT PLN Persero kembali akan melakukan pemadaman listrik bergilir. Pemadaman ini akan dilakukan dari Senin (16/10/2017) hingga Sabtu (21/10/2017).
Wakil Bupati Meranti Buka Musrenbang Kec. Rangsang, Himpun Program Prioritas Kecamatan
8 tahun laluMERANTI(POROSRIAU.COM) - Wakil Bupati Kepulauan Meranti H. Said Hasyim bersama Ketua DPRD H. Fauzy Hasan, mengikuti kegiatan Musyawarah Rencana Pembangunan Kecamatan Rangsang (Musrenbang), kegiatan
Jemput Bola Kejar Dana APBN, Wakil Bupati Dan Ketua DPRD Meranti Beserta Kepala Desa Sambangi Beberapa Kementrian
8 tahun laluKondisi APBD Kepulauan Meranti yang terus menurun kini berkisar diangka 1.1 Triliun rupiah dinilai tak cukup untuk menggesa pembangunan Kabupaten dalam rangka mengejar ketertinggalan, apalagi sebagai Kabupaten baru yang masih seumur jagung.









