Jumat, 24 November 2017
  • Home
  • NASIONAL
  • Indonesia dan Arab Saudi, Siapa Membutuhkan Siapa?
Rabu, 01 Maret 2017 09:09:00

Indonesia dan Arab Saudi, Siapa Membutuhkan Siapa?

Oleh: Redaksi
Rabu, 01 Maret 2017 09:09:00
BAGIKAN:
int
Presiden Joko Widodo mendapatkan medali King Abdul Azis dari Raja Arab Saudi (kanan) Salman bin Abdulazis di Istana Al Salam Diwan Malaki, Jeddah, Sabtu (12/9/2015).

POROSRIAU.COM--Pertumbuhan ekonomi Arab Saudi terus melambat dalam dua tahun terakhir. Setelah mencatat pertumbuhan fenomenal sebesar 10 persen pada 2011, perekonomian negara teluk itu kemudian turun pada 2012, dengan pertumbuhan 5,4 persen dan turun lagi pada 2013 sebesar 2,67 persen.

Pada tahun 2014, perekonomian Saudi sedikit membaik, dengan laju 3,64 persen. Namun, kemudian terus melambat menjadi 3,5 persen pada 2015 dan 1,4 persen pada 2016.

Tidak seperti negara-negara lain yang relatif stabil, pertumbuhan ekonomi Arab Saudi bagai roller coaster, naik turun secara ekstrim, kadang tinggi sekali, kadang sangat rendah.

Itu terjadi karena ekonomi Saudi sangat bergantung pada minyak. Maklum saja, 75 persen pendapatan negara berasal dari minyak. Bahkan, 90 ekspor negara itu berasal dari industri minyak.

Hampir setengah dari produk domestik bruto (PDB) Saudi disumbang oleh usaha minyak, yang menggambarkan betapa tidak terdiversifikasinya lapangan usaha di negara tersebut.

Nah persoalannya, meskipun menjadi produsen minyak terbesar di dunia dan menyimpan seperlima cadangan minyak dunia, Arab Saudi tak selalu bisa mengendalikan harga minyak. Sementara, harga minyak selalu naik turun mengingat komoditas ini juga menjadi ajang investasi dan spekulasi investor global.

Saat harga  minyak dunia meroket dari 77,45 dollar AS per barrel menjadi 107,46 dollar AS per barrel pada 2011, perekonomian Saudi pun melonjak dan mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia sebesar 10 persen.

Namun, dalam dua tahun terakhir, negara itu harus menerima kenyataan jatuhnya harga minyak ke titik nadir. Pada tahun 2015, harga minyak merosot drastis dari 96,29 dollar AS per barrel menjadi 49,49 dollar AS per barrel. Perekonomian Arab Saudi pun terhantam dan hanya bisa tumbuh 3,48 persen.

Kejatuhan harga minyak terus berlanjut pada 2016, rata-rata hanya 40,76 dollar AS per barrel sehingga pada tahun itu, perekonomian Saudi hanya tumbuh 1,4 persen.

Anjloknya harga minyak membuat penerimaan negara itu pun menyusut drastis. Penerimaan negara menurun 41 persen dari 1,04 triliun riyal saudi menjadi  615 miliar riyal saudi. Dampaknya, belanja negara pun dipangkas besar-besaran. Gaji pegawai pemerintah dipotong dan subsidi juga dikurangi.

Kendati demikian, defisit tetap membengkak mencapai 15 persen PDB. Utang pemerintah pun terus menumpuk menjadi 5,9 persen PDB.

Warga Arab Saudi memang masih menjadi salah satu yang terkaya di dunia, namun pedapatan per kapitanya terus menurun menjadi 21.312 dollar AS.

Tahun 2017, perekonomian negara beribu kota Riyadh itu diperkirakan masih akan terpuruk. Harga minyak memang merangkak naik menyusul kesepakatan organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) untuk memangkas produksi sebesar 1,8 juta barrel per hari.  Saat ini harga minyak dunia berada di level  53,6 dollar AS per barrel

Namun, kondisi itu tidak banyak mendongkrak pendapatan Saudi. Pasalnya, berdasarkan kesepakatan OPEC, negeri kerajaan itu harus memangkas produksi minyak mentahnya dari 10,5 juta barrel per hari menjadi 9,7 juta barrel per hari.

Harga minyak juga diprediksi sulit kembali ke level 100 dollar AS per barrel. Sebab, kini ada Shale oil yang pasokannya berlimpah dan harganya lebih murah ketimbang minyak fosil.

Shale oil merupakan minyak yang terkandung dalam sejenis bebatuan lunak, banyak ditemukan di AS. Minyak dalam bebatuan ini diekstrak dengan proses pemanasan yang tidak rumit dan tidak mahal.

Meningkatnya konsumsi shale oil di AS dan Eropa tentu saja akan mengurangi ekspor minyak Saudi ke kawasan tersebut. Padahal AS dan Eropa merupakan pangsa terbesar dari ekspor minyak negara yang berdiri pada 1932 itu. Kondisi ini akan memaksa Saudi untuk mencari negara-negara lain sebagai tujuan ekspor minyaknya.

Permintaan minyak fosil pun makin tertekan oleh meningkatnya penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT) di tiap negara. Kian menipisnya cadangan minyak dan meningkatnya kesadaran penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan membuat tiap-tiap negara kini berlomba mengembangkan energi panas bumi, tenaga surya, tenaga angin, arus air, dan proses biologi.

Di tengah himpitan ekonomi itulah Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz beserta rombongannya yang mencapai 1.500 orang berkunjung ke Indonesia dan tiga negara Asia lainnya yakni Malaysia, Jepang, dan China.

Rakyat Indonesia menyambut rombongan Raja Salman dengan suka cita. Kunjungan ini sangat bersejarah. Sebab, kunjungan terakhir Raja Arab Saudi ke Indonesia berlangsung 46 tahun lalu ketika Raja Faisal berkunjung ke Jakarta pada 10-13 Juni 1970.

Pemerintah Indonesia menggelar karpet merah untuk kedatangan rombongan sang Raja termasuk 10 menteri dan 25 pangeran.

Petugas Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta dan Bandara Ngurah Rai Bali ditambah untuk melayani kedatangan 7  pesawat rombongan yang terdiri dari dua Boeing 777 serta masing-masing satu Boeing 757, Boeing 747 SP, Boeing 747-400, Boeing 747-300, dan pesawat Hercules.

Raja Salman dijadwalkan melakukan pembicaraan bilateral dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor pada 1 Maret, kemudian melanjutkan kunjungan ke sejumlah tempat. Adapun pada 4-9 Maret Raja Salman dan rombongan akan berlibur di Bali.

Kita semua berharap, kerajaan dari Timur Tengah itu akan membanjiri Indonesia dengan modal dan uang. Kita berharap, mereka akan berinvestasi besar-besaran di berbagai sektor usaha seperti migas, industri, dan pariwisata.

Kita makin yakin karena Raja Salman datang dengan segala kemewahannya. Raja ketujuh Arab Saudi itu membawa sendiri motorized atau eskalator khusus penumpang pesawat, juga dua mobil mewah Mercy tipe S600.

Namun, benarkah mereka datang untuk membantu Indonesia dengan berbagai investasinya? Tampaknya tidak persis seperti itu. Mereka datang ke Indonesia dan sejumlah negara Asia lainnya justru ingin mendapatkan bantuan dari Indonesia mengingat perekonomian mereka sedang terimpit. Mereka justru membutuhkan dana segar untuk mengurangi defisit anggaran yang makin membengkak.

Fakta menunjukkan, minat investasi Arab Saudi ke Indonesia sangat rendah. Bahkan mereka tidak menambah investasinya ke Indonesia saat penerimaannya melonjak berkat melambungnya harga minyak. Apalagi saat ini, tatkala keuangan mereka terlilit utang.

Berdasarkan data BKPM, investasi Saudi sepanjang 2016 hanya 900.000 dollar AS atau Rp 11,7 miliar pada kurs Rp 13.000 per dollar AS. Bandingkan dengan investasi Singapura di Indonesia yang mencapai 9,18 miliar dollar AS atau setara Rp 119,3 triliun. Dari daftar investor terbesar di Indonesia, Arab Saudi ada di peringkat 57.

Bahkan, investasi Saudi masih kalah dibandingkan negara-negara Arab lainnya seperti Uni Emirat Arab, Iran, Irak, Kuwait, dan Yordania.

Indonesia juga bukan mitra dagang utama Arab Saudi. Berdasarkan data BPS, ekspor Indonesia ke Saudi hanya sekitar 3,75 miliar dollar AS per tahun atau setara Rp 48,75 triliun. Nilai itu hanya seperlima ekspor Indonesia ke AS.

Jadi, tujuan utama kedatangan Raja Salman ke Indonesia memang ingin mencari dana. Setelah mendapatkan dana, barulah mereka akan berinvestasi.

Salah satunya, mereka akan melobi pemerintah Indonesia untuk membeli saham BUMN utama mereka yakni Saudi Aramco melalui mekanisme go public atau initial public offering (IPO). Mereka juga menawarkan saham Aramco ke Malaysia, Jepang, dan China.

Kerajaan Arab Saudi rencananya akan melepas 5 persen saham Aramco, yang merupakan perusahaan terbesar di dunia dari sisi aset yang ditaksir mencapai 2 triliun dollar AS atau sekitar Rp 26.000 triliun rupiah atau 26 kalinya aset PLN, perusahaan terbesar di Indonesia.

Dari IPO tersebut, negeri padang pasir itu akan mendapatkan dana segar sebesar 100 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.300 triliun.

Selain untuk menutup defisit anggaran, sebagian besar dana tersebut akan digunakan untuk mentransformasi perekonomian Arab Saudi dengan mengurangi ketergantungan pada minyak. Negara teluk itu kemungkinan akan mulai berinvestasi pada sejumlah lapangan usaha.

Jika IPO mereka sukses,  Saudi kemungkinan akan meningkatkan investasinya di Indonesia. Arab Saudi disebut-sebut akan menanamkan investasi sebesar 25 miliar dollar AS atau sekitar Rp 32,5 triliun pada sektor minyak dan gas, pariwisata, penerbangan, dan perumahan di Indonesia.

Di sektor migas, Saudi Aramco dan Pertamina menandatangani perjanjian pembentukan perusahaan patungan untuk proyek pengembangan kilang Cilacap Jawa Tengah senilai 6 miliar dollar AS.

Kita berharap komitmen investasi Saudi tersebut dapat terealisasi sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus menyerap tenaga kerja.

Namun yang pasti, perekonomian Indonesia ternyata tidak dipandang sebelah mata oleh dunia internasional. Bahkan, negeri Saudi yang kita anggap kaya raya pun meminta bantuan fulus kepada Indonesia meskipun sebenarnya Indonesia pun kekurangan fulus.

 

Editor: Chaviz

Sumber: Kompas.com

Iklan Lowongan
copy code snippet
Kirimkan opini Anda seputar politik, isu sosial dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Redaksi Porosriau.com mengutamakan opini yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Setiap Opini yang diterbitkan di luar dari tanggung jawab redaksi. KIRIM KE Email: pkuporosriau@gmail.com
  Berita Terkait
  • Masih Sekolah Udah Nikah, ABG Ini Pecahkan Rekor Ayah Termuda

    4 minggu lalu

    Menikah di usia muda memang selalu menjadi kontroversi. Tapi, di balik penilaian miring masyarakat, selalu ada alasan mengapa ada pernikahan di usia dini.

  • Ribuan Jemaah Meranti Ikuti Wirid Bulanan

    tahun lalu

    Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti terus berupaya menjalin kedekatan dengan masyarakat, berbagai carapun dilakukan, salah satunya dengan menggelar kegiatan Wirid bulanan Pemkab. Meranti dengan mengundang Ustadz dari ibu kota, yang dipusatkan di

  • Masyarakat Desak Zulher Segera Bentuk Tim

    tahun lalu

    Setelah mengetahui bahwa Drs H Zulher MS telah mendapatkan Parpol yang memiliki syarat minimal 9 kursi DPRD Kampar, masyarakat Kampar mendesak Zulher untuk segera membentuk tim dari kabupaten hingga ke RT. Desakan itu karena mereka melihat Pilkada Kampar

  • Diduga Oknum Dokter di Puskesmas Siak Acuhkan Pasien, Ini Tanggapan Kadiskes

    tahun lalu

    Sejumlah polemik terkait mutu dan sistem pelayanan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Kabupaten Siak masih dirasakan oleh sebagian kecil masyarakat. Seperti yang terjadi belum lama ini di Puskesmas Siak.

  • Kunjungi University Chiba, Ini yang Dilakukan Pejabat Siak Selama di Jepang

    12 bulan lalu

    Terkait keberangkatan Empat pejabat teras di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Siak ke Negeri Sakura (Jepang, red) beberapa waktu lalu, sejumlah elemen masyarakat Kabupaten Siak merasa penasaran dan bertanya-tanya, apa tujuan mereka (pejabat Siak,

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 Poros Riau. All Rights Reserved.