- Home
- INTERNASIONAL
- Arab Saudi Kecam Kebijakan Represif Myanmar
Minggu, 24 September 2017 07:13:00
Arab Saudi Kecam Kebijakan Represif Myanmar
Oleh: Redaksi
Minggu, 24 September 2017 07:13:00
"Negara saya benar-benar prihatin dan mengecam kebijakan penindasan"
POROSRIAU.COM--Pemerintah Arab Saudi dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Sabtu (23/9) mengecam kebijakan represif Myanmar terhadap warga minoritas Muslim Rohingya.
"Negara saya benar-benar prihatin dan mengecam kebijakan penindasan serta penelantaran yang dilakukan Pemerintah Myanmar terhadap warga minoritas Rohingya," kata Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir.
Bangladesh dan sejumlah organisasi bantuan internasional sedang bergelut untuk menolong 422.000 Muslim Rohingya, yang tiba sejak 25 Agustus 2017, ketika serangan oleh milisi Rohingya memicu tindakan keras dari pihak militer Myanmar, yang disebut PBB sebagai upaya pembersihan etnis.(antara)
Editor: Chaviz
Tak Bantu Rohingya, Kerajaan Arab Saudi Dikecam
9 tahun laluKritik tersebut juga dilontarkan pemimpin milisi Ansarullah, yang menjadi tembok pertahanan Yaman dari perang agresi Saudi, Sayyed Abdol Malik Badreddine AL Houthi.
Perdagangan Manusia Terbesar Di Timur Tengah Berhasil Terungkap
7 tahun laluMabes Polri tengah memproses delapan orang yang diduga terlibat dalam kasus dugaan perdagangan sekitar 1.200 orang ke negara-negara di Timur Tengah sebagai tenaga kerja ilegal.
Stok AS Menurun Tajam, Harga Minyak Melonjak
9 tahun laluAdapun, kilang AS memproses hampir 17,6 juta barel minyak, melebihi angka bulan Mei dan pekan-pekan lainnya sejak data Departemen Energi dimulai tahun 1982
Mahasiswa dan NGO Kecam Kebijakan Zul As
10 tahun laluSejumlah Aktivis Mahasiswa dan para aktivis National Goverment Organisation (NGO) mengecam kebijakan Walikota Dumai Zulkifli As yang membagi-bagikan langsung seluruh paket proyek
Indonesia dan Arab Saudi, Siapa Membutuhkan Siapa?
9 tahun laluPOROSRIAU.COM--Pertumbuhan ekonomi Arab Saudi terus melambat dalam dua tahun terakhir. Setelah mencatat pertumbuhan fenomenal sebesar 10 persen pada 2011, perekonomian negara teluk itu kemudian turun pada 2012, dengan pertumbuhan 5,4 persen dan turun lagi









