Minggu, 19 November 2017
  • Home
  • NASIONAL
  • Disentil Sekali, Fahri Hamzah Balas KPK Lima Kali
Sabtu, 25 Maret 2017 08:00:00

Disentil Sekali, Fahri Hamzah Balas KPK Lima Kali

Oleh: Redaksi
Sabtu, 25 Maret 2017 08:00:00
Fahri Hamzah: Enggak Usah Belagu, KPK Itu Diawasi DPR, Bukan DPR Diawasi KPK
BAGIKAN:
Int
Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah

JAKARTA(POROSRIAU.COM)--Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah kembali berseteru dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kali ini, karena nama Fahri Hamzah tiba-tiba muncul dalam persidangan kasus suap pajak yang juga melibatkan adik ipar Presiden Jokowi, Arief Budi Sulistyo.

KPK pun mengaku membuka peluang untuk memeriksa Fahri Hamzah. Sebab, bukan tidak mungkin, Fahri juga terbelit kasus pajak seperti yang tengah diusut KPK melibatkan Bos PT Eka Prima Indonesia Ramapanicker Rajamohanan Nair yang kini sudah jadi terdakwa.

"Nama-nama yang belum sempat diperiksa dalam proses penyidikan dimungkinkan untuk dihadirkan sebagai saksi jika keterangannya dibutuhkan jaksa untuk pembuktian maupun atas perintah majelis hakim," kata Febri di Gedung KPK, Rabu 22 Maret lalu.

Awal mula nama Fahri Hamzah disebut dalam sidang ketika terdakwa Handang Soekarno yang menangani sejumlah wajib pajak bersaksi di sidang Tipikor. Jaksa bertanya tentang barang bukti berupa dokumen yang disita dari tas Handang. Dari situ muncul nama artis Syahrini.

Jaksa juga mengungkap percakapan Handang dengan ajudan Dirjen Pajak, Andreas Setiawan melalui pesan WhatsApp. Di sinilah, nama Fahri Hamzah dan koleganya di DPR Fadli Zon terkuak. Jaksa menduga, nama-nama itu juga 'bermain' pajak dengan Handang.

Tak terima dengan hal itu, Fahri pun naik pitam. Beragam tudingan ditujukan kepada KPK. Memang Fahri Hamzah dikenal sangat kencang mengkritik KPK sejak dulu.

KPK kayak preman kampung

Fahri menegaskan, tidak takut manuver lembaga antirasuah itu dengan memunculkan namanya dan Fadli dalam kasus suap pajak. Dia tak segan menyebut cara KPK membungkam kritikan itu sebagai manuver 'kampungan'.

"Yang begini gini nih kita enggak takut lagi yang begini gini. Mau nakut-nakutin orang dengan cara begitu, kayak orang kampung aja, preman kampung," kata Fahri.

KPK sering lobi-lobi

Fahri menuding KPK kerap melakukan lobi dalam menangani perkara. Menurut dia, tidak jarang KPK menghilangkan nama dan memunculkan nama lain dalam sebuah kasus karena lobi tersebut.

"KPK itu ada lobi-lobi termasuk lobi untuk memisahkan perkara, lobi untuk memisahkan, niat jahat lobi untuk memberikan pretensi orang aktif atau tidak aktif ini semua lobi itu. Dan itu yang saya bilang KPK itu harus diawasi. Karena dia berpeluang juga untuk di lobi-lobi menghindarkan orang," kata Fahri.

Penyidik KPK bermasalah

Parahnya lagi, kata Fahri, sebagian besar penyidik yang bermasalah dan telah dipecat Mabes Polri tetap diberi kewenangan oleh KPK untuk menyidik suatu perkara.

"Ini KPK penyidiknya sudah dipecat Mabes Polri, masih kerja, masih manggil orang, masih nyidik orang. Kayak enggak ada dosa saja. Padahal kelakukannya dan kesalahannya banyak," tegasnya.

Fahri pun menilai, KPK saat ini cenderung anti kritik. Namun, di saat ada pihak yang mengkritik kinerja mereka, justru KPK bereaksi dengan menyeretnya dalam kasus tertentu.

"Cuma mereka menikmati karena enggak ada yang berani kritik dan mereka menikmati betul enggak dikritik orang. Begitu ada yang berani kritik dianggap musuh. Ini kan alam pikiran lama ini, mental otoriter zaman dulu," ujar Fahri. 

Fahri tantang KPK periksa Jokowi

Fahri geram mendengar pernyataan pihak KPK. Fahri menantang KPK untuk memanggil Presiden Joko Widodo untuk membuktikan dugaan keterlibatan adik iparnya Arief Budi Sulistyo di kasus itu.

"Kenapa enggak dia panggil Jokowi aja, buat klarifikasi itu adik iparmu beneran enggak? Berani enggak begitu?" kata Fahri di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (23/3).

Menurutnya, KPK tidak bisa sembarangan memanggilnya dan Fadli Zon terkait kasus ini meskipun atas perintah hakim atau Jaksa Penuntut Umum (JPU). Pemanggilan seseorang dalam persidangan, kata dia, harus sesuai amanat UU bukan subjektifitas hukum.

"Urusan apa dipanggil. Eh memanggil orang itu hak memanggil orang itu namanya hak yang diberikan oleh UU. Enggak boleh semua orang sembarangan dipanggil, ngawur itu. Ini emangnya negara ini punya dia apa, sembarangan mau manggil orang enggak ada relevansinya apa," tegas dia. 

KPK langgar UU Pajak

Fahri menilai KPK telah melakukan pelanggaran hukum karena membuka dokumen pajak dirinya dan Fadli di persidangan. Urusan pajak, kata dia, bukan urusan KPK. KPK dianggap telah melakukan sandiwara politik dengan memunculkan namanya dengan tujuan menyerang karena kerap mengkritik kinerja KPK.

"Mereka yang sudah melakukan kesalahan, mereka membuka rahasia pajak, itu melanggar UU Pajak. Mereka membuat sandiwara di ruang sidang dengan niat menyerang orang. Tidak ada bukti apapun yang bisa dia temukan tentang saya. Dan kalau adapun urusan pajak bukan urusan KPK," tegas Fahri.

"Kalau saya menyuap atau disuap itu urusannya dengan KPK. Kalau ada dokumen perpajakan saya yang saya lagi ngurusin pajak itu bukan urusan KPK. KPK harus tahu diri. Mereka telah melakukan pelanggaran, abuse keluar dari kewenangannya dan mereka harus dipanggil," tambahnya.

Melalui Komisi III, Fahri akan menanyakan masalah ini kepada KPK. Fahri memperingatkan lembaga pimpinan Agus Rahardjo itu untuk tidak bertindak seperti preman dengan mengancam orang-orang yang mengkritik mereka.

"Saya akan minta Komisi III juga supaya mereka ditanya soal ini. Apa mereka mau jadi preman-preman pasar? Tekan-tekan orang, teror-teror orang itu maunya begitu? Enggak usah belagu, KPK itu diawasi DPR, bukan DPR diawasi KPK, jangan dibalik-balik," tutupnya.

Editor: Chaviz

Sumber: Merdeka

copy code snippet
Kirimkan opini Anda seputar politik, isu sosial dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Redaksi Porosriau.com mengutamakan opini yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Setiap Opini yang diterbitkan di luar dari tanggung jawab redaksi. KIRIM KE Email: pkuporosriau@gmail.com
  Berita Terkait
  • Masjid 60 Kurang Aso Wisata Religi Solok Selatan

    11 bulan lalu

    Pada masa lalu, di daerah Solok Selatan terdapat sebuah Kerajaan penting. Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu namanya. Hingga saat ini masih banyak peninggalan-peninggalan bersejarah yang masih terpelihara dengan baik

  • Dicekoki Tuak, Dua Gadis Remaja Digilir Tujuh Pria

    12 bulan lalu

    Dua orang gadis remaja dicekoki Tuak hingga mabuk dan tak sadarkan diri sebelum akhirnya disetubuhi secara bergiliran oleh tujuh orang pria berkali-kali. Dua orang gadis remaja yang masih berstatus pelajar ini, digilir oleh tujuh pria di sebuah pondoka

  • Dua Buron Pencabul Gadis Belia di Dumai Akhirnya Diringkus

    12 bulan lalu

    DUMAI (porosriau.com) - Beberapa hari menjadi buron, dua dari lima daftar pencarian orang (DPO) pencabul dua gadis belia yang berstatus pelajar di Kota Dumai akhirnya dibekuk aparat Polsek Bukit Kapur. Keduanya diamankan di tempat persembunyiannya masing-

  • Man United Waspadai Perlawanan Stoke City di Laga Pekan Ini

    10 bulan lalu

    POROSRIAU.COM--Manchester United akan berhadapan dengan Stoke City pada matchday ke-22 Liga Inggris musim ini, Sabtu 21 Januari 2017 malam WIB. Gelandang serang Man United, Juan Mata, mengatakan timnya sangat mewaspadai perlawanan Stoke di laga pekan ini.

  • Pemerintah Belum Revisi UU KPK, Fahri: Enggak Jalan Barang Ini

    9 bulan lalu

    Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menuturkan pihaknya saat ini menunggu kesiapan pemerintah untuk membahas revisi Undang-Undang Nomor 30 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi atau dikenal sebagai Revisi UU KPK. Ia mengklaim sudah tiga kali rap

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 Poros Riau. All Rights Reserved.