Jumat, 20 Oktober 2017
  • Home
  • NASIONAL
  • Dwi Hartanto Si Jenius 'Penerus BJ Habibie' Ternyata Pembohong
Senin, 09 Oktober 2017 08:56:00

Dwi Hartanto Si Jenius 'Penerus BJ Habibie' Ternyata Pembohong

Oleh: Redaksi
Senin, 09 Oktober 2017 08:56:00
BAGIKAN:
Dwi Hartanto bersama dengan B.J. Habibie di Den Haag. (Disclaimer: belakangan diketahui, tak pernah ada pertemuan antara keduanya di Den Haag.) [Dokumen Pribadi]

JAKARTA(POROSRIAU.COM)--Dwi Hartanto, mahasiswa doktoral di Technisse Universiteit Delft Belanda, yang selama ini disebut-sebut sebagai penerus Bacharuddin Jusuf Habibie terkait kejeniusan dan keahlian di bidang teknologi serta kerdirgantaraan, ternyata merupakan kebohongan besar.

Hartanto akhirnya mau mengakui kebohongan mengenai sejumlah klaimnya ke hadapan publik, setelah sejumlah ilmuwan melakukan investigasi mandiri tentang klaim-klaim pemuda itu.

Surat pengakuan sekaligus pernyataan maaf Hartanto dipublikasikan melalui laman daring Perhimpuan Pelajar Indonesia (PPI) Delft, Sabtu (7/10) akhir pekan lalu, dan menggemparkan jagad keilmuwan maupun warga Indonesia.

"Saya mengucapkan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah dirugikan atas tersebarnya informasi-informasi (oleh dirinya) yang tidak benar terkait dengan pribadi, kompetensi, dan prestasi saya," tulis Dwi dalam surat bermaterai tersebut.

Nama Dwi benar-benar mencuat dan menjadi buah bibir di kalangan ilmuwan maupun warga Indonesia pada akhir tahun 2016.

Kala itu, ia menjadi peserta acaraVisiting World Class Professor yang digelar Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI dengan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional.

Dalam acara itu yang dihadiri lebih dari 40 ilmuwan maupun peneliti diaspora Indonesia dari berbagai belahan dunia itu, Dwi Hartanto mengutarakan klaim-klaimnya yang membuat banyak orang terperangah. Tak pelak, ia disebut sebagai “penerus BJ Habibie”.

Berikut daftar klaim Dwi Hartanto yang ternyata hanya kebohongan:

Mengaku lulusan Tokyo University

Dwi sejak lama mengumbar biodata diri bahwa ia merupakan lulusan ilmu sains Tokyo University, yang sangat bergengsi di dunia.

Ternyata, melalui surat pernyataan maaf itu, Dwi mengakui ia hanya lulusan Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta. Di institut itu, ia tercatat sebagai mahasiswa program studi Teknik Informatika di Fakultas Teknologi Industri. Dia lulus tahun 2005.

Korupsi Umur

Dwi dalam sejumlah kesempatan wawancara kepada media maupun acara televisi di Indonesia mengakui masih berusia 28 tahun. Ternyata ia sudah berusia 35 tahun. Ia lahir pada 13 Maret 1982.

Mengaku Posdoktoral Asisten Profresor Aerospace TU Delft

Pemuda itu sempat mengumbar jati diri sebagai post-doctoral Asistent Professor aerospace di Technische Universiteit (TU) Delft. Predikat itu ia dapatkan karena dirinya fokus meneliti teknologi satelit dan pengembangan roket.

Faktanya, dia Cuma mahasiswa doktoral biasa di TU Delft. Penelitiannya juga bukan soal satelit atau roket, tapi intelligent systems. Dia menulis disertasi tentang virtual reality.

Mengaku perancang Satelit dan Roket

Dwi pernah mengakui kepada media massa di Indonesia merancang Satellite Launch Vehicle dan roket yang dinamakan The Apogee Ranger versi 7s (TARAV7s).

“Sebenarnya, saya hanya pernah menjadi anggota dari tim mahasiswa yang merancang salah satu subsistem embedded flight computer untuk roket Cansat V7s milik DARE (Delf Aerospace Rocker Engineering), yang merupakan bagian dari kegiatan roket mahasiswa di TU Delft,” demikian pengakuan Dwi melalui pernyataan tertulisnya.

Tak hanya itu, proyek itu juga ternyata bukan dibiayai Kementerian Pertahanan Belanda, ataupun lembaga kedirgantaraan serta antariksa Belanda seperti yang diklaimnya. Tim mahasiswa itu melakukan perancangan proyek roket amatir.

Ketika menjadi bintang tamu acara talkshow terkenal di salah satu stasiun televisi swasta nasional, Dwi mengklaim roketnya itu bakal dipakai pada stasiun luar angkasa internasional. Ia sendiri mengklaim menjabat sebagai direktur teknik. Ternyata, semua itu bohong.

Mengaku Menang Riset Kalahkan Peneliti NASA

Dwi pernah mengakui diri sebagai juara lomba penelitian tekonologi antarlembaga kedirgantaraan dan antariksa di seluruh dunia. Lomba itu digelar di Cologne, Jerman.

Dengan demikian, Dwi mampu mengalahkan peneliti-peneliti NASA Amerika Serikat, periset lembaga antariksawan Eropa, Jepang, dan lainnya.

Ternyata, lagi-lagi, klaimnya itu bohong. Dwi akhirnya mengakui Cuma menang dalam bidang riset Spacecraft Technology. Lagipula lomba ini juga diikuti oleh tim, bukan Dwi seorang diri.

"Saya mengakui secara jujur kesalahan dan kekhilafan serta ketidakdewasaan saya, yang berakibat terjadinya distorsi informasi atau manipulasi fakta yang sesungguhnya secara luas yang melebih-lebihkan kompetensi dan prestasi saya. Saya sangat berharap dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya," tulis Dwi dalam surat pernyataan.***

Editor: Chaviz

Sumber: suara.com

copy code snippet
Kirimkan opini Anda seputar politik, isu sosial dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Redaksi Porosriau.com mengutamakan opini yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Setiap Opini yang diterbitkan di luar dari tanggung jawab redaksi. KIRIM KE Email: pkuporosriau@gmail.com
  Berita Terkait
  • Salut !! Mahasiswa Dumai, Gotong Royong Bersihkan Pantai Rupat Utara

    tahun lalu

    Menikmati liburan panjang masa perkuliahan di kampus, tidak semata-mata membuat sebahagian mahasiswa untuk bersantai dan bermalas-malasan. Justru liburan ini membuat mereka tergerak untuk bisa lebih produktif dikampung halaman. Banyak hal-hal kecil yang d

  • Notaris Neni Lolos dari Eksekusi JPU

    tahun lalu

    Untuk kali kedua, notaris senior Neni Sanitra lagi-lagi "lolos" dari eksekusi Jaksa Penuntut Umum (JPU). Padahal, terpidana satu tahun terkait perkara pemalsuan akta perjanjian tersebut harusnya sudah berada di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan

  • Maling Gasak Laptop dan Uang Mahasiswi

    tahun lalu

    Kawanan maling satroni 2 buah laptop dan uang tunai milik Mahasiswi di Jalan Karya I, Kecamatan Bukit Raya, Pekanbaru-Riau, Dalam kejadian itu korban kehilangan dua laptop senilai Rp7 juta.

  • Anak Murid SDN 028 Inhu, Belajar Duduk di Lantai

    tahun lalu

    Sangat miris, ternyata masih ada SD ( Sekolah Dasar ) dimana muridnya masih beralaskan lantai untuk menuntut ilmu. Tanpa meja dan bangku salah satu sekolah negeri di wilayah kecamatan rengat barat kelurahan pematang reba. Murid SD Negeri O28 Pematang reba

  • Hari Anak Nasional 2016, Wabup Rohul Ajak Warga Akhiri Kekerasan Terhadap Anak

    tahun lalu

    Wakil Bupati Rokan Hulu (Rohul) H. Sukiman, mengajak seluruh elemen untuk mengakhiri kekerasan terhadap anak, baik itu orang tua, guru serta masyarakat sekitar.

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 Poros Riau. All Rights Reserved.