Rabu, 13 September 2017 13:17:00
Selain Irit Biaya, Menggunakan Alat Tradisional Hasilnya Diyakini Lebih Bagus
Oleh: bgv
Rabu, 13 September 2017 13:17:00
SOLSEL(POROSRIAU.COM)--- Di tengah gempuran alat modern, ternyata masih ada petani menggunakan alat tradisional. Tepatnya di Jorong Sungai Aro, Nagari Pakan Rabaa, Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh, Kabupaten Solok Selatan (Solsel), Sumatera Barat. Dimana salahsatu petani tampak masih menggunakan bantuan dua ekor sapi untuk menarik bajak.
Dari pantauan awak media, pagi itu, (Minggu 10/9) disebuah sawah terlihat seorang petani dengan kendaraan kunonya sedang berjibaku menarik tali kerbau yang terpasang di bajaknya.
Sementara sang kerbau yang tengah berbadan dua, dengan santai dan pelan berjalan sambil memakan bekas jerami sawah, yang merupakan makanan favoritnya.
"Usss.uss...ha..haaa...krek..krek..krek" suara yang keluar dari mulut pak tani itu, rupanya sang kerbau ini mengerti pula dengan bahasa itu sambil berputar.
Melihat pemandangan langka tersebut, awak media mencoba menghampiri sang petani tersebut. Diketahui petani tersebut bernama Madan (67), warga Jorong Sungai Aro, Nagari Pakan Rabaa, Kecamatan Koto Parik Gadang Di Ateh,Kabupaten Solok Selatan.
Dengan keringat bercucuran Madan memarkirkan kendaraan tradisionalnya dan mulai panjang lebar bercerita.
Ketika Ia ditanyai " kenapa tidak pakai bajak yang dari mesin itu pak, kan lebih cepat dan praktis" tanya awak media.
Dengan cepat laki-laki 67 tahun itu menjawab, "Mendingan pakai yang lama saja, kita punya sarana semua, kerbau kita punya, alat bajak punya, irit biaya lagi. Sayang kalau tidak dimanfaatkan,"ucap Madan, sambil mengelus keringat di keningnya.
Dan lagi menurut bapak empat anak ini, hasilnya lebih bagus dengan bajak kerbau tersebut, diakuinya bahwa Ia tidak pernah memakai mesin dalam proses pembajakan sawah.
" Kalau yang sudah-sudah, memang dengan mesin itu cepat dan mudah, namun hasilnya sangat kurang, yang mana jika dengan mesin humus tanah itu bisa mati, sebab mesin itu main paksa. Berbeda dengan kerbau, tanah sawah kita bisa terawat," tuturnya.
Ditambahkannya, para petani di sekitar sini selalu memakai alat bajak dengan mesin, juga termasuk adik saya.
" Kalau saya bajak kerbau ini saja," imbuhnya.
Hal yang menarik dari perbincangan dengan pak Madan, kerbau yang Ia pakai saat membajak sawah tersebut tengah mengandung tiga bulan. Dimana, hasil perkawinan kerbau dengan seekor sapi.
" Itu kan boleh, buktinya saat ini kerbau saya mengandung," katanya sambil berkelakar.
Terik mata hari sudah mulai menyengat, Awak Media pun pamit, " Ambo taruian karajo ko stek lai lu yo," kelakarnya lagi.(BVG)
Editor: Chaviz
Rokan Hilir Berpotensi Di Bidang Perikan Dan Budidaya Kerang Laut
9 tahun laluKabupaten Rokan Hilir memiliki daya tarik dan kenggulan dilihat dari investasi perikanan baik dari perikanan tangkap, budidaya dan pengolahan hasil perikanan untuk komoditi perikanan laut denga memiliki suMber daya hayati (dapat Pulih).
Jemput Bola Kejar Dana APBN, Wakil Bupati Dan Ketua DPRD Meranti Beserta Kepala Desa Sambangi Beberapa Kementrian
8 tahun laluKondisi APBD Kepulauan Meranti yang terus menurun kini berkisar diangka 1.1 Triliun rupiah dinilai tak cukup untuk menggesa pembangunan Kabupaten dalam rangka mengejar ketertinggalan, apalagi sebagai Kabupaten baru yang masih seumur jagung.
Perjuangan Panjang, Akhirnya Dumai Kantongi Izin Pembangunan Embung Dari Kementrian LHK
4 tahun laluNamun pemerintah menilai hal itu masih kurang efektif jika debit air tidak dialihkan ke kawasan lain. Untuk itulah sejak setahun belakangan Walikota, Dinas PUPR bolak-balik ke jakarta dan ke Pemprov mengupayakan izin pembuatan embung sebagai wadah untuk
SMPN 35 Kutip Uang Pembangunan Empat Unit Toilet, LKS dan Terobosan, Wali Murid Keberatan
8 tahun laluPEKANBARU (POROSRIAU.COM) - Wali Murid protes atas kutipan pembangunan empat unit toilet, uang Lembar Kegiatan Siswa (LKS), serta uang terobosan yang dilakukan pihak SMPN 35 Jalan Tengku Bay. Diketahui, kutipan pembangunan empat unit toilet, masing-masing
Virus Corona: Antara 600.000 hingga 700.000 'Berisiko Terpapar', Pemerintah Indonesia Lakukan Rapid Test
6 tahun laluTepat tiga pekan setelah Indonesia mengonfirmasi kasus pertama virus yang punya nama resmi Covid-19 tersebut, pemerintah memulai tes massal.









