Minggu, 19 April 2026
  • Home
  • NASIONAL
  • Ucapan Mahmud MD Sebut "Provinsi Garis Keras" Sebagai Basis Kemenangan Capres 02, Menuai Protes Keras Dari Kubu Prabowo Sandi
Minggu, 28 April 2019 23:34:00

Ucapan Mahmud MD Sebut "Provinsi Garis Keras" Sebagai Basis Kemenangan Capres 02, Menuai Protes Keras Dari Kubu Prabowo Sandi

Minggu, 28 April 2019 23:34:00
BAGIKAN:
Prof. Mahmud MD, Mantan Ketua MK. (Net)
JAKARTA (POROSRIAU.COM) - Pernyataan mantan Ketua MK, Mahfud Md, yang menyebut daerah yang dimenangkan capres Prabowo Subianto dulunya dianggap 'provinsi garis keras' jadi heboh. Kritik tetap ramai muncul meski Mahfud sudah memberi penjelasan.
 
Berikut Rangkumannya :
 
Pernyataan Mahfud Md yang Viral.
 
Pernyataan itu disampaikan Mahfud dalam wawancara di salah satu stasiun TV. Video potongan wawancara yang berdurasi 1 menit 20 detik lalu beredar di media sosial. 
 
Berikut pernyataan Mahfud:
Kemarin itu sudah agak panas dan mungkin pembelahannya sekarang kalau lihat sebaran kemenangan ya mengingatkan kita untuk lebih sadar segera rekonsiliasi. Karena sekarang ini kemenangan Pak Jokowi ya menang dan mungkin sulit dibalik kemenangan itu dengan cara apapun.
 
Tapi kalau lihat sebarannya di beberapa provinsi-provinsi yang agak panas, Pak Jokowi kalah. Dan itu diidentifikasi tempat kemenangan Pak Prabowo itu adalah diidentifikasi yang dulunya dianggap provinsi garis keras dalam hal agama misal Jawa Barat, Sumatera Barat, Aceh dan sebagainya, Sulawesi Selatan juga.
 
Saya kira rekonsiliasinya jadi lebih penting untuk menyadarkan kita bahwa bangsa ini bersatu karena kesadaran akan keberagaman dan bangsa ini hanya akan maju kalau bersatu.
 
Kubu Prabowo Kritik Mahfud Md
 
Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi mengkritik pernyataan Mahfud Md itu. Kritik tersebut datang di antaranya dari Koordinator Jubir BPN Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak hingga Waketum Gerindra Fadli Zon dan Jubir BPN Prabowo-Sandi, Andre Rosiade. Mereka ramai membahas di Twitter.
 
Dahnil menganggap pernyataan Mahfud itu tidak menunjukkan sikap Pancasilais. Dia menyinggung gerakan Suluh Kebangsaan yang digagas Mahfud.
 
"Apakah sikap Pancasilais itu adalah sikap menuduh dan melabel kelompok lain yang tidak satu garis politik sebagai Islam Garis keras seperti yang dilakukan oleh Pak @mohmahfudmd ketika menyebut daerah di mana Prabowo menang adalah daerah Islam Garis keras?" ungkap Dahnil lewat Twitter.
 
"Bagaimana mungkin Pak @mohmahfudmd yang menyatakan dirinya menggerakkan suluh kebangsaan justru mengeluarkan pernyataan keruh kebangsaan dengan menuduh daerah seperti Aceh, Sumbar, Jawa Barat dan seterusnya yang dukung Prabowo adalah daerah Islam Garis keras," sambung Dahnil.
 
Sementara itu, Andre Rosiade yang berasal dari Sumatera Barat menceritakan latar belakangnya yang pernah sekolah di sekolah Katolik. Dia menyebut orang Minang bukan garis keras dan radikal. Di Sumatera Barat, Prabowo memang menang telak. Andre yang merupakan caleg DPR Dapil Sumbar I ini menyebut alasan Jokowi kalah di provinsi tersebut tidak ada kaitannya dengan agama.
 
"Alasan masyarakat Minang tidak memilih Pak @jokowi adalah ekonomi. Karena kehidupan ekonomi yang sulit, cari pekerjaan susah, harga sembako di pasar tidak terjangkau, listrik mahal, pupuk mahal, dan lain-lain. Mudah-mudahan Prof @mohmahfudmd paham penjelasan saya ini. Salam hormat," kata Andre di Twitter.
 
Penjelasan Mahfud Md
 
Lewat Twitter, Mahfud Md sebelumnya sudah memberi penjelasan. Dia bicara soal istilah 'garis keras' yang dimaksudnya.
 
"Garis keras itu sama dengan fanatik dan sama dengan kesetiaan yang tinggi. Itu bukan hal yang dilarang, itu term politik. Sama halnya dengan garis moderat, itu bukan hal yang haram," tulis Mahfud, Minggu (28/4/2019).
 
"Dua-duanya boleh dan kita bisa memilih yang mana pun. Sama dengan bilang Jokowi menang di daerah PDIP, Prabowo di daerah hijau," sambungya.
Mahfud menegaskan bahwa istilah 'garis keras' adalah istilah biasa dalam ilmu politik. Dia mengambil contoh daerah asalnya, Madura.
 
"Dalam term itu saya juga berasal dari daerah garis keras yaitu Madura. Madura itu sama dengan Aceh dan Bugis, disebut fanatik karena tingginya kesetiaan kepada Islam sehingga sulit ditaklukkan. Seperti halnya konservatif, progresif, garis moderat, garis keras adalah istilah-istilah yang biasa dipakai dalam ilmu politik," jelas Mahfud.***
Editor: Redaksi

Sumber: goriau.com / detik.com

  Berita Terkait
  • Jokowi Lontarkan Politik Genderuwo, Ini Reaksi Kubu Prabowo

    8 tahun lalu

    Setelah menyebut politikus sontoloyo, kini Presiden Joko Widodo atau Jokowi kembali melontarkan istilah lain yakni politik genderuwo. Istilah itu ia tujukan kepada politikus yang melakukan propaganda dengan cara menakut-nakuti masyarakat.

  • Isu Merapat ke Jokowi, Ketum PAN: Tunggu Tanggal Mainnya

    7 tahun lalu

    JAKARTA (POROSRIAU.COM) - Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan belum menegaskan sikap yang akan diambil partainya bila Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kalah dalam sengketa Pilpres 2019. Ia menegaskan masih

  • Merasa Dirugikan Wasit, Semen Padang Bakal Layangkan Protes

    9 tahun lalu

    Semen Padang lagi-lagi merasa dirugikan wasit saat bertemu Arema FC di kandang lawan. Tidak saja di liga resmi, di turnamen pramusim pun Kabau Sirah juga menelan kekecewaan oleh sang pengadil. Terakhir, didapat saat pada leg kedua semifinal Piala Presiden

  • Tim Prabowo Protes KPU, Tuding Kubu Jokowi Curi Start Kampanye

    8 tahun lalu

    Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean akan melakukan protes keras terhadap KPU RI atas pelanggaran yang diduga dilakukan oleh tim Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf Amin. Alasannya, dalam deklarasi kampanye da

  • Kecewa dengan Pernyataan Prabowo, Ribuan Warga Boyolali Turun ke Jalan

    8 tahun lalu

    Ribuan warga Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, melakukan aksi turun ke jalan-jalan, Minggu(4/1/2018), memprotes Calon Presiden nomor urut 2 Pabowo Subianto yang disebut melecehkan warga kabupaten di Jawa Tengah tersebut.

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2026 POROSRIAU.COM. All Rights Reserved.