Sabtu, 19 Oktober 2019
  • Home
  • POLITIK
  • Anjlok Pemilu 2019, Pendiri Demokrat Tuding Kogasma Tidak Memiliki Dampak Signifikan
Minggu, 07 Juli 2019 02:42:00

Anjlok Pemilu 2019, Pendiri Demokrat Tuding Kogasma Tidak Memiliki Dampak Signifikan

Minggu, 07 Juli 2019 02:42:00
BAGIKAN:
Agus Harimurti Yudhoyono
JAKARTA (POROSRIAU.COM) - Nama Komandan Kogasma Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY kembali jadi perbincangan. Kali ini, posisi AHY sebagai Komandan Kogasma partai berlogo bintang mercy itu disebut ilegal oleh Forum Komunikasi Deklarator (FKDP) Partai Demokrat.
 
Sebelumnya, Komandan Kogasma Demokrat AHY digadang-gadang maju jadi capres 2024 oleh sejumlah pihak.Seperti oleh lembaga survei politik Lingkaran Survei Indonesia atau LSI, AHY menjadi salah satu politikus yang berpotensi maju di Pilpres 2024.
 
Tentu saja, nama AHY bukan satu-satunya yang muncul disebut berpotensi dalam Pilpres 2024.Pilpres 2024, menurut LSI Denny JA, akan diramaikan 15 tokoh yang berpotensi bertarung.
 
Nama-nama selain AHY itu di antaranya adalah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto; eks Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra Sandiaga Uno, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, eks Ketua Fraksi PDI-P Puan Maharani, dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.
 
Menanggapi hal tersebut, Kepala Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahean mengatakan, masuknya AHY jadi nama potensial di Pilpres 2024 adalah harapan besar bagi partai dan kader. Tentu saja, kata dia, hal itu dapat dipandang sebagai kesempatan besar Partai Demokrat kembali memimpin Indonesia.
 
"Sebagaimana selama 10 tahun SBY memerintah. Dan tentu cita-cita Partai Demokrat akan memberikan yang lebih baik lagi," ujar Ferdinand kepada awak media, Jumat (05/07).
 
Lebih lanjut ia mengatakan, AHY memang sudah menunjukkan kualitasnya sebagai calon pemimpin. Ferdinand menyoroti AHY saat menjadi kandidat Pilkada DKI Jakarta dan jadi cawapres potensial di Pilpres 2019.
 
"AHY adalah masa depan Partai Demokrat dan akan jadi bagian dari masa depan bangsa ke depan," ujarnya.
 
Terkait persiapan AHY di Pilpres 2024, Ferdinand mengatakan, Partai Demokrat belum mempersiapkannya. Namun, menurutnya, AHY akan jadi calon pimpinan bangsa seiring berjalannya waktu.
 
"Biarlah waktu yang mempersiapkan AHY," kata Ferdinand.
 
Baru-baru ini kisruh internal Partai Demokrat mencuat setelah Forum Komunikasi Pendiri dan Deklarator (FKDP) Partai Demokrat buka suara.
 
Putra Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY, Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY pun termasuk menjadi sasarannya. Posisi AHY sebagai Kogasma Partai Demokrat disebut ilegal karena tak ada dalam AD/ART kepengurusan.
 
Selain itu, keberadaan Kogasma itu dinilai tak berdampak besar terhadap hasil Pemilu 2019. Hal ini disebabkan perolehan suara partai yang dipimpin SBY anjlok pada Pemilu 2019.
 
Namun, kini tudingan tersebut dipatahkan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Pandjaitan. Melalui keterangan tertulis di laman resmi Partai Demokrat, lembaga Kogasma disebut legal sesuai spirit AD/ART.
 
Penetapan lembaga yang dikerahkan AHY itu berdasarkan rapat pengurus DPP Partai Demokrat pada 9 Februari 2018. Menurut Hinca Pandjaitan, dibentuknya Kogasma ini memang untuk menjawab kebutuhan Partai Demokrat untuk pemenangan pada Pemilu 2019. Oleh karena itu, ia menyebut Kogasma itu ilegal merupakan tudingan yang tak berdasar.
 
"Tudingan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang menilai Kogasma ilegal merupakan tudingan yang keliru dan tidak berdasar," ujarnya.
 
Selain itu, Hinca Pandjaitan pun menyebut anggapan Kogasma AHY tak berdampak itu salah.
 
"FKPD yang menyatakan pembentukan Kogasma Partai Demokrat tidak memberi dampak apapun adalah cara pandang yang misleading dan tidak tepat," kata sekjen Partai Demokrat itu.
 
Ia membeberkan beberapa bulan sebelum pelaksanaan Pemilu 2019 pada 17 April, elektabilitas Partai Demokrat sekitar 3 sampai 4 persen. Hal itu disebut bisa dibuktikan dari elektabilitas yang dikeluarkan berbagai lembaga survei. Selain itu, konsentrasi pengurus partai pun terpecah ketika ibu AHY, Ani Yudhoyono divonis mengidap kanker darah.
 
Seperti yang diketahui, sebelum meninggal, Ani Yudhoyono pun harus dirawat secara intensif di Singapura. Sebagai suami, SBY pun mendedikasikan seluruh waktunya untuk mendampingi sang istri.
 
Menurut Hinca Pandjaitan, saat kondisi genting itu, keberadaan AHY justru bisa meningkatkan kekuatan Partai Demokrat.
 
"Berkat kerja keras Komandan Kogasma Pemenangan Pemilu 2019, bersama-sama semua kader di seluruh Indonesia, Partai Demokrat tetap mampu mempertahankan kekuatan politiknya di angka 7,7 persen," katanya.***
 
 
 
 
 
 
 
 
Editor: Redaksi

Sumber: tribunnews.com

  Berita Terkait
  • Edis Wan : Membentuk Lembaga Pinjaman Tanpa Riba Melalui Efesiensi Zakat Mal, Solusi Mengatasi Jeratan Praktek Rente Dimasyarakat

    6 bulan lalu

    DUMAI (POROSRIAU.COM) - Pria kelahiran Alahan Panjang, Solok, Sumatera Barat, 16 April 1973 adalah Calon Anggota Legislatif (Caleg) 2019 Kota Dumai yang maju melalui Partai Amanat Nasiosal (PAN).

  • Fraksi DPRD Meranti Sampaikan Pandangan Umum Terhadap Ranperda Usulan Pemerintah Daerah

    12 bulan lalu

    SELATPANJANG(POROSRIAU.COM) - DPRD Kepulauan Meranti melaksanakan rapat paripurna pandangan umum fraksi-fraksi DPRD terhadap rancangan peraturan daerah (Ranperda) usulan Pemerintah Daerah Kepulauan

  • Paparkan Keberhasilan di Paripurna DPRD Sempena Hari Jadi Meranti Ke-X, Bupati Mendapat Apresiasi Sejumlah Tokoh.

    10 bulan lalu

    MERANTI(POROSRIAU.COM) - Bupati Kepulauan Meranti Drs. H. Irwan M.Si didampingi Wakil Bupati H. Said Hasyim, mengikuti Rapat Paripurna DPRD,  Sempena Hari Jadi Meranti Ke-X yang jatuh pada Tan

  • Editorial : Siapakah yang Akan Menjadi Rival Sang PETAHANA? (Part I)

    3 bulan lalu

    POROSRIAU.COM – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Dumai yang dijadwalkan pada tahun 2020 mendatang, disambut apresiasi masyarakat dengan banyaknya nama nama yang mencuat dibeberapa pembe

  • Sutan Bhatoegana Wafat, Begini Kata-kata Ajaib Almarhum

    3 tahun lalu

    Jenazah Sutan Bhatoegana dikebumikan di Pemakaman Giri Tama, Parung, Kabupaten Bogor, pada Sabtu sore, 19 November 2016. Politikus Partai Demokrat itu wafat karena kanker liver.

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 POROSRIAU.COM. All Rights Reserved.