Jumat, 19 April 2019
  • Home
  • NASIONAL
  • Novel Baswedan Menilai Ada Yang Lakukan Pembangkangan Terhadap Presiden Jokowi
Senin, 31 Juli 2017 09:51:00

Novel Baswedan Menilai Ada Yang Lakukan Pembangkangan Terhadap Presiden Jokowi

Oleh: Redaksi
Senin, 31 Juli 2017 09:51:00
BAGIKAN:
Int
Novel Baswedan.

POROSRIAU.COM--Novel Baswedan, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menjadi korban teror penyiraman air keras melontarkan kritikan terhadap kepolisian. Novel menyampaikan sejumlah kejanggalan terkait kasus yang menimpanya.

Novel yang kini masih dirawat di Singapore General Hospital menyatakan jika dirinya sama sekali tidak takut dengan apa yang ia derita saat ini. Meski mendapat teror, dirinya berkomitmen akan terus melakukan tugasnya di KPK dengan sebaik mungkin.

“Kewajiban saya adalah melakukan tugas sebagai aparatur negara. Itu sudah saya lakukan dan ke depan saya akan tetap lakukan. Saya tetap fokus melakukan itu dengan sekuat dan sekeras mungkin saya bisa. Kejadian ini tidak membuat saya gentar. Tidak membuat saya takut,” terang Novel, dilansir Jawapos.com.

Ia lantas menjelaskan bagaimana dirinya sebagai aparatur negara yang tengah bekerja tengah diserang, sehingga yang harusnya yang marah adalah negara. Novel menganggap Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah memerintahakan untuk mengungkap kasus yang menimpanya, tetapi polisi berlum juga berhasil.

“Sekarang yang seharusnya marah siapa? Negara. Presiden mewakili negara sudah marah dan perintahkan ungkap kasus ini. Tapi tidak diungkap,” kata Novel.

Novel bahkan menganggap jika perintah Presiden tidak dilaksanakan, itu sama saja dengan pembangkangan.

“Bagi saya, ketika Presiden memerintahkan untuk diungkap, tapi ternyata tidak diungkap, adalah pembangkangan yang harus dilihat sebagai masalah serius. Kok beraninya presiden menyuruh mengungkap, tapi tidak dilaksanakan. Perspektif kita mestinya dibelokkan ke sana (pembangkangan),” lanjut Novel

Ia mengingatkan agar jangan sampai ada catatan sejarah buruk dimana sebuah perintah Presiden yang tak dilaksanakan dengan baik.

“Kalau saya ya terserah. Apakah ingin ini menjadi sejarah bahwa ada presiden memberikan perintah kepada aparatur, tapi tidak dilaksanakan? Ada aparatur yang bekerja benar, terus diserang (teror), tapi sekarang dibiarkan. Bahkan, ditutup-tutupi pelakunya,” sambungnya.

Baginya, dijaman yang sudah serba terbuka seperti sekarang, sangat sulit untuk menutup-nutupi sesuatu.

Novel pun tidak memungkiri jika dirinya kecewa dengan tidak berkembangnya kasus yang menimpanya. Ia kembali menyindir bagaimana perintah Presiden untuk mengungkap pelaku teror terhadapnya tidak diindahkan.

“Kok bisa ya ada aparatur punya kewajiban, tapi tidak melaksanakan? Saya tidak mau seperti dia. Saya berdoa semoga saya tidak menjadi orang seperti dia,” sindirnya.

Novel menilai jika tim Polri yang menyelidiki kasusnya sebenarnya sudah cukup bagus, akan tetapi dirinya tetap tidak bisa memahami kenapa kasus tersebut berhenti prosesnya.

Dirinya pun mengaku jika selama ini sangat kooperatif dalam menjalani pemeriksaan yang dilakukan Polri.

“Hari pertama, polsek datang, dari polres datang, dari polda datang, dari Bareskrim dan densus pun ada. Dan saya selalu memberikan keterangan. Langsung saya berikan, tidak pakai nanti. Jadi, kalau saya dibilang tidak memberikan keterangan, saya kira humas (Polda Metro Jaya dan Mabes Polri) tidak tahu. Karena saya memberikan keterangan bukan ke humas,” terangnya.***

Editor: Chaviz

  Berita Terkait
  • 500 Hari Kasus Novel Baswedan, PUSAKO FH UIR: ini Momen Jokowi Desak Kapolri

    6 bulan lalu

    Dikatakan Ketua PUSAKO, DR. Muhamad Nurul Huda SH. MH, perbuatan pelaku tersebut sudah merusak nilai-nilai kemanusiaan

  • Bagir Manan Sedih Ketua PWI Margiono 'Kampanyekan' Jokowi

    tahun lalu

    Polemik mengenai kapan dan bagaimana pelaksanaan Hari Pers Nasional (HPN), mengundang perhatian Ketua Dewan Etik Asosiasi Media Siber Indonesia, Bagir Manan.

  • Jemput Bola Kejar Dana APBN, Wakil Bupati Dan Ketua DPRD Meranti Beserta Kepala Desa Sambangi Beberapa Kementrian

    tahun lalu

    Kondisi APBD Kepulauan Meranti yang terus menurun kini berkisar diangka 1.1 Triliun rupiah dinilai tak cukup untuk menggesa pembangunan Kabupaten dalam rangka mengejar ketertinggalan, apalagi sebagai Kabupaten baru yang masih seumur jagung.

  • Belum Ada Keputusan Saat Trump Berceloteh akan Serang Suriah

    12 bulan lalu

    Celotehan pagi Presiden Donald Trump bahwa 'sebuah rudal terbaru yang bagus dan pintar akan segera ditembakkan ke Suriah' ternyata dilontarkan sebelum membahasnya dengan pihak terkait, termasuk para pejabat keamanan Amerika Serikat beserta negar

  • RTRW Hambat Sejumlah Proyek Strategis Nasional di Bumi Lancang Kuning

    2 tahun lalu

    Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Riau yang belum juga tuntas menjadi penghambat terhadap pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Negeri Lancang Kuning.

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 POROSRIAU.COM. All Rights Reserved.