Rabu, 30 Agustus 2017 07:17:00
Boneka Seks Lebih Laris Ketimbang Pelacur
Oleh: Redaksi
Rabu, 30 Agustus 2017 07:17:00
PEKANBARU(POROSRIAU.COM)--Salah satu rumah bordil di Wina, Austria, kembali mengeluarkan uang hingga USD9.747 untuk membeli boneka seks kedua mereka. Pasalnya, boneka seks yang lebih dulu dibeli populer di kalangan klien dibandingkan para Pekerja Seks Komersial (PSK) sesungguhnya.
Boneka seks bernama Fanny ini terbukti "laku keras" di rumah bordil kawasan Kontakthof tersebut. Boneka ini dengan cepat menjadi pekerja seks yang paling banyak dicari di sana.
Klien yang ingin "memakai" Fanny, yang terbuat dari silikon, harus membayar USD118 per jam. Pasalnya, bayaran ini lebih mahal jika dibandingkan tarif beberapa pelacur yang bekerja di rumah seks tersebut.
Pemilik rumah bordil mengungkapkan, banyak klien yang memesan Fanny selama beberapa hari berturut-turut, sehingga memutuskan menjawab permintaan yang meningkat, dengan menambah "PSK plastik" mereka.
Fanny memiliki rambut yang pirang, payudara yang besar dan berat 38 kilogram. Menurut pemiliknya, Fanny bisa memenuhi semua keinginan seksual karena boneka ini sangat fleksibel dan bisa diletakkan dalam posisi yang diinginkan pelanggan.
Boneka seks yang sangat mirip dengan perempuan asli ini juga digambarkan sebagai sosok perempuan sangat muda, seksi, ramping dan payudara yang erotis.
Di situs rumah bordil tersebut, Fanny memperkenalkan dirinya, dan menjelaskan untuk mencegah infeksi dan penyakit menular, klien yang sudah selesai memakai, harus segera membersihkan dirinya. Namun, operator rumah bordil tidak mau menjelaskan dengan tepat bagaimana boneka tersebut dibersihkan.
Tampaknya, popularitas Fanny telah menyebar ke rumah pelacuran lainnya, yang juga mencari boneka mirip untuk pelanggan mereka.
Peter Laskaris yang mengoperasikan dua rumah pelacuran di Wina, mengatakan boneka ini berasal dari Jepang, dan dia telah menghabiskan biaya hingga USD10.394 untuk mendatangkan boneka ini.
Psikolog Gerti Senger menjelaskan mengapa beberapa lelaki lebih tertarik meniduri "Fanny" daripada perempuan sesungguhnya.
"Pertama, lelaki bisa melakukan apapun dengan boneka seks. Kedua, banyak perempuan yang 'mematikan' keinginan lelaki untuk seks, ini bisa menjadi faktor mengapa mereka mencari PSK," ungkapnya.
Namun, Senger, yang merupakan co-chair di Society for Sexual Research (OeGS) Austria, mengaku terkejut mengetahui Fanny lebih populer daripada PSK asli dan menyebutnya "Kecenderungan autistik yang nyata".
Meski mempertimbangkan membeli boneka seks untuk rumah bordilnya, Mr Laskaris mengungkapkan bukan penggemar boneka seks.
"Saya pernah mencobanya sekali, tapi rasanya sama seperti saya tidur dengan mayat," tandasnya. (news/suara)
Editor: Chaviz
Selain Maroko, Di Puncak Bogor Ada Pelacur Dari Bahrain Dan Mesir
9 tahun laluApalagi jika benar apa yang disampaikan pihak imigrasi dan kepolisian Bogor, bahwa ada ratusan wanita asing yang diduga mencari uang dengan melacurkan diri ke kalangan ekspatriat yang sengaja berwisata ke kawasan berhawa sejuk ini.
Zhang Yufeng, Pemilik Bisnis Pemburu Pelakor Yang Bikin Pasangan Selingkuh Kejang-Kejang
9 tahun laluPerselingkuhan, memang sering disebut sebagai awal keretakan sebuah rumah tangga. Mirisnya lagi, kadang yang berbuat dan pelakornya malah tidak tahu diri dan meneruskan perbuatannya. Bahkan tak jarang harta dan anak dibawa pergi bersama selingkuhannya tan
Pasangan Yang hampir Bercerai Ini Kembali Akur Berkat Robot Seks.
6 tahun laluJakarta, POROSRIAU.COM - Robot seks ternyata tidak selalu berfungsi untuk menyelesaikan permasalahan di atas ranjang saja. Ada manfaat lain yang mungkin tidak banyak orang ketahui, salah satunya adalah untuk menyelamatkan pernikahan yang sudah di ambang k
Sosialisasikan BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Rangkul Pemkab Rohul
10 tahun laluBadan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan merangkul Pemerintah daerah kabupaten Rokan Hulu (Rohul) dalam mensosialisasikan manfaat dari program BPJS Ketenagakerjaan bagi peserta yang bergabung.
Indonesia dan Arab Saudi, Siapa Membutuhkan Siapa?
9 tahun laluPOROSRIAU.COM--Pertumbuhan ekonomi Arab Saudi terus melambat dalam dua tahun terakhir. Setelah mencatat pertumbuhan fenomenal sebesar 10 persen pada 2011, perekonomian negara teluk itu kemudian turun pada 2012, dengan pertumbuhan 5,4 persen dan turun lagi









